Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti
atau disingkat Al-Idrisi (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد الإدريسي; bahasa Latin: Dreses) (1100 – 1165 atau 1166) adalah pakar geografi, kartografi, mesirologi, dan pengembara yang tinggal di Sisilia, tepatnya di istana Raja Roger II (Sultan Ar Rujari). Muhammad al-Idrisi lahir di kota Afrika Utara Ceuta (dulu dikenal dengan nama Sabtah - karena itu disebut dengan Al Sabti) yang termasuk bagian Kekaisaran Murabitun dan wafat di Sisilia. Al-Idrisi merupakan keturunan para penguasa Idrisiyyah (nama Al Idrisi merujuk pada kata ini) di Maroko, yang merupakan keturunan Hasan bin Ali, putra Ali dan cucu nabi Muhammad (nama Al Hasani menunjukan bahwa beliau keturunan Hasan bin Ali, yang di Indonesia dikenal pula sebagai golongan Habaib). atau disingkat Al-Idrisi (bahasa Arab: أبو عبد الله محمد الإدريسي; bahasa Latin: Dreses) (1100 – 1165 atau 1166) adalah pakar geografi, kartografi, mesirologi, dan pengembara yang tinggal di Sisilia, tepatnya di istana Raja Roger II (Sultan Ar Rujari). Muhammad al-Idrisi lahir di kota Afrika Utara Ceuta (dulu dikenal dengan nama Sabtah - karena itu disebut dengan Al Sabti) yang termasuk bagian Kekaisaran Murabitun dan wafat di Sisilia. Al-Idrisi merupakan keturunan para penguasa Idrisiyyah (nama Al Idrisi merujuk pada kata ini) di Maroko, yang merupakan keturunan Hasan bin Ali, putra Ali dan cucu nabi Muhammad (nama Al Hasani menunjukan bahwa beliau keturunan Hasan bin Ali, yang di Indonesia dikenal pula sebagai golongan Habaib).
Pendidikan Al-Idrisi diperoleh di Andalusia.
Gambaran pengantar peta dunia karya al-Idrisi tahun 1154. Perhatikan 'selatan' berada di 'atas' peta.
Tumbuh dan besar di Cetua, Al-Idrisi muda mengembara ke Spanyol Islam, Portugal, Perancis, dan Inggris dan Asia Kecil. Dia mengunjungi Anatolia saat ia baru berusia 16 tahun karena terjadinya konflik politik dan ketidakstabilan di Andalusia. Dia kemudian bersama orang-orang sezamannya menetap di Sisilia, yang kemudian dijajah oleh bangsa Normandia yang dulunya loyal kepada Kekhalifahan Fatimiyah. Menurut Ibnu Jubayr: "bangsa Normandia bertoleransi dan melindungi keluarga-keluarga Arab dalam pertukaran ilmu pengetahuan."
Al-Idrisi menggabungkan pengetahuan dari Afrika, Samudera Hindia, dan Timur Jauh yang dikumpulkan para penjelajah dan pedagang Islam dalam bentuk peta Islam, dan juga dari informasi yang dibawa oleh pelayar-pelayar Normandia untuk membuat peta paling akurat di dunia di masa pramodern, yang diletakkan sebagai ilustrasi Kitab Nuzhat al-Mushtaq miliknya, (Latin: Opus Geographicum) diterjemahkan Hiburan untuk Manusia yang Rindu Mengembara ke Tempat-Tempat Jauh
Pada tahun 1138 M, Al Idrisi diundang oleh Raja Roger II ke istananya di Palermo (dulu dikenal dengan nama Bal'harm) dan ada yang mengatakan bahwa beliau baru menetap disana pada 1145 M. Dan di istana inilah Al Idrisi menggambar Peta Tabula Rogeriana Peta tersebut, dengan legenda berbahasa Arab, menampilkan daratan Eurasia secara keseluruhan dan sebagian kecil bagian utara benua Afrika dengan sedikit detail pada Tanduk Afrika dan Asia Tenggara. Peta tersebut diselesaikan oleh Al Idrisi pada Januari 1154 M. Untuk Raja Roger, peta tersebut diukir dalam piringan besar dari perak padat yang berdiameter dua meter.
Sebagai tambahan, Al-Idrisi juga merupakan ahli farmakologi dan seorang dokter.
Mengenai karya geografi al-Idrisi, S. P. Scott menulis:Kompilasi Al-Idrisi menandakan sebuah era dalam sejarah pengetahuan. Tidak hanya itu, informasi historis karya-karyanya sangat menarik dan berharga, namun dekripsi-deksripi karyanya terhadap banyak tempat di bumi masih otoritatif. Selama tiga abad para pakar geografi menyalin petanya tanpa perubahan. Posisi relatif danau yang membentuk sungai Nil, seperti yang digambarkan dalam karyanya, tidak banyak berbeda dari yang dibuat Baker dan Stanley lebih dari tujuh ratus tahun kemudian, begitu pula bilangannya sama. Kejeniusan mekanis penulis tidak lebih rendah dari pengetahuannya. Planisfer angkasa dan bumi dari perak yang dibuatnya untuk raja pelindungnya hampir enam kaki diameternya dan beratnya empat ratus lima puluh pon; di satu sisi dukir zodiak dan rasi bintang, sementera di sisi lain dibagi menjadi segmen-segmen daratan dan perairan, dengan situasi masing-masing dari berbagai negeri.
Al-Idrisi menginspirasi pakar geografi Islam lainnya seperti Ibnu Batutah, Ibnu Khaldun, Piri Reis dan Barbary Corsairs. Petanya juga menginspirasi Christopher Columbus dan Vasco Da Gama
Nuzhatul Mushtaq
Karya teks geografi Al-Idrisi, Nuzhatul Mushtaq, sering dikutip oleh para pendukung teori hubungan Andalusia-Amerika pra-Columbus. Dalam teks ini, al-Idrisi menulis mengenai Samudera Atlantik:
"Komandan umat Muslim Ali bin Yusuf bin Tashfin mengirim laksamananya Ahmad bin Umar, yang baik dikenal dengan nama Raqsh al-Auzz untuk mengeksplorasi suatu pulau di Atlantik (Benua Amerika), namun dia wafat sebelum melaksanakannya.
Di balik samudera kabut ini, tidak diketahui apa yang ada disana. Tak seorangpun memiliki pengtahuan yang pasti mengenainya karena betapa sulitnya melintasinya. Udaranya berkabut, gelombangnya begitu kuat, dan bahaya yang mengancam sangat besar, makhluk-makhluknya sangat mengerikan, dan sering terjadi badai. Disana terdapat banyak pulau, sebagian diantaranya tidak berpenghuni, sementara lainnya terbenam. Tak seorang navigator pun melewatinya kecuali mengelilingi pantai-pantainya. Dan dari kota Losbon, para petualang berangkat dengan nama yang dikenal sebagai Mugharrarin [yang terbujuk], menembus samudera kabut dan ingin mengetahui apa yang ada disana dan dimana berakhirnya. Setelah berlayar selama dua belas hari lebih mereka merasakan sebuah pulau untuk dihuni, dan mengolah perkebunan. Mereka terus berlayar untuk mengatahui apa yang ada di sana. Namun kemudian penduduk asli mengepung dan menawan mereka, dan membawa mereka ke pedesaan suram di pantai. Di sana mereka mendarat. Sang navigator melihat orang-orang berkulit merah (Orang Indian); tidak banyak rambut di tubuh mereka, rambut di kepala mereka lurus, dan mereka berperawakan tinggi. Wanita-wanita mereka memiliki kecantikan luar biasa."Terjemahan oleh Dr. Professor Muhammad Hamidullah masih dipertanyakan karena tertulis, setelah mencapai wilayah "perairah yang lembab dan berbau", Mugharrarin (juga diterjemahkan "para petualang") kemudian mundur dan pertama mencapai pulau tak berpenghuni dimana mereka menemukan "sejumlah besar domba yang dagingnya pahit dan tidak dapat dimakan" dan kemudian "melanjutkan ke selatan" dan mencapai yang disebutkan tadi dimana mereka dikelilingi para barque dan dibawa ke "desa yang penghuninya berambut panjang dan kemerahan dan wanitanya memiliki kecantikan yang langka". Diantara penduduk desa, salah satunya berbicara dengan bahasa Arab dan menanyai asal-usul mereka. Kemudian kepala desa memerintahkan untuk membawa mereka ke benua dimana mereka disambut baik oleh bangsa Berber (Bukti bahwa dizaman tersebut Muslim Berber - Marocco sudah menetap di Benua Amerika).
IBNU SINA
Ibnu Sīnā telah menulis hampir 450 karya dengan berbagai disiplin ilmu, namun hanya sekitar 240 yang masih bertahan hingga kini. Secara khusus, dari 150 karyanya yang masih ada berkonsentrasi pada falsafah dan 40 diantaranya berkonsentrasi pada kedokteran. Karyanya paling terkenal adalah Buku Penyembuhan, yang memuat ensiklopedi luas dan filosofis ilmiah (Al Qanun Al Tibb) The Canon of Medicine, yang merupakan standar medis di banyak perguruan tinggi zaman modern. The Canon of Medicine telah digunakan sebagai buku teks di perguruan tinggi dari Montpellier dan Louvain pada akhir 1650.
Ibnu Sīnā mengembangkan sistem medis yang menkombinasikan antara pengalaman pribadi dalam pengobatan Islam, sistem pengobatan Yunani dokter Galen, metafisika Aristoteles serta berbagai sistem pengobatan kuno dari Persia, Mesopotamian dan India. Dia juga penemu dari logika Avicennian dan pendiri sekolah filosofis Avicinna, yang memiliki pengaruh dalam dunia Muslim dan Ilmuwan Modern.
Ibnu Sīnā dianggap sebagai Bapak dari pengobatan modern, dan pharmacology khususnya untuk pengenalan sistematis eksperimen dan hitungan ke dalam studi fisiologi, penemuan itu menular dari sifat infeksius penyakit, pengenalan karantina untuk membatasi penyebaran penyakit menular, pengenalan percobaan obat-obatan, berdasarkan bukti-obat, uji klinis,
Riwayat Ibnu Sina
Kehidupan Ibnu Sina dikenal lewat sumber - sumber berkuasa dimana sebuah autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretarisnya dan temannya.
Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afganistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.
Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.
Ibn Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intellectual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.
Meskipun bermasalah besar pada masalah - masalah metafisika dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan meninggalkan buku - bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus sholat sampai hidayah menyelesaikan kesulitan - kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata - katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak dikenal, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di suatu bookstall seharga tiga dirham. Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan, yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan memberikan sedekah atas orang miskin.
Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa "Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai." Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.
Pada usia 17 tahun, Ibnu Sina berhasil menyembuhkan seorang raja di Bukhara, yaitu Nooh Ibnu Mansoor, setelah semua tabib terkenal yang diundang gagal menyembuhkan sang raja tersebut. Dan sebagai balasannya, Ibnu Sina diizinkan untuk membaca smeua buku-buku di perpustakaan setelah dia menolak pemberian hadiah sang Raja.
Pekerjaan pertamanya menjadi fisikawan untuk emir, yang diobatinya dari suatu penyakit yang berbahaya. Majikan Ibnu Sina memberinya hadiah atas hal tersebut dengan memberinya akses ke perpustakaan raja Samanids, pendukung pendidikan dan ilmu. Ketika perpustakaan dihancurkan oleh api tidak lama kemudian, musuh - musuh Ibnu Sina menuduh din oa yang membakarnya, dengan tujuan untuk menyembunyikan sumber pengetahuannya. Sementara itu, Ibnu Sina membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awalnya.
Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal.Samanid dynasty menuju keruntuhannya pada Desember 1004. Ibnu Sina menolak pemberian Mahmud of Ghazni, dan menuju kearah Barat ke Urgench di Uzbekistan modern, dimana vizier, dianggap sebagai teman seperguruan, memberinya gaji kecil bulanan. Tetapi gajinya kecil, sehingga Ibnu Sina mengembara dari satu tempat ke tempat lain melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan, mencari suatu opening untuk bakat - bakatnya. Shams al-Ma'äli Qäbtis, sang dermawan pengatur Dailam, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibn Sina mengharapkan menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak. Ibnu Sina sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, Ibnu Sina bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri idmana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini ; dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.
Ibnu Sina wafat pada tahun 1037 M di Hamadan, Iran, karena penyakit maag yang kronis. Ia wafat ketika sedang mengajar di sebuah sekolah.
ABDULLAH BIN ZUBAIR <sahabat nabi>
Abdullah bin Zubair atau Ibnu Zubair (624 - 692) (عبدالله بن الزبير ) adalah putera dari Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar, dimana Zubair juga merupakan keponakan dari istri pertama Nabi Muhammad, Khadijah. Asma binti Abu Bakar melahirkan Ibnu Zubair di Quba pada saat perjalanan hijrah ke Madinah. Dia merupakan muslim pertama yang lahir dalam masyarakat Islam dan hidup sampai umur 73 tahun. Menurut riwayat dari Bukhari, Rasulullah mendoakan bayi ini pada saat kelahirannya.
Ibnu Zubair merupakan anggota dari Bani Asad. Sebagai orang muda, Abdullah berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kampanye peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, seperti Pertempuran Badar dan Pertempuran Uhud, malah di Uhud, dia termasuk salah seorang yang melindungi Muhammad pada saat kekalahan pihak muslim, dimana sahabat-sahabat yang lain melarikan diri.
Abdullah bin Zubair ketika kecil pernah diramalkan oleh Umar ibn Khattab akan menjadi seorang yang besar. cerita ini bermula ketika Umar sedang berjalan-jalan di kota Madinah. ketika itu banyak anak kecil yang sedang bermain di jalan, namun ketika mereka melihat Umar, mereka lari tunggang langgang meninggalkan jalanan tersebut dan hanya satu anak yang tidak lari. Umar lalu mendekati anak tersebut dan bertanya, " Hai anak, kenapa kau tidak ikut lari bersama mereka ? " lalu anak kecil itu menjawab, " Kenapa aku harus lari, sedang aku tidak bersalah padamu ya Amirul mukminin.." Umar lalu menepuk-nepuk pundak anak itu,dan berkata " Sungguh suatu saat nanti, engkau akan menjadi seorang yang besar "
Kemudian pada masa Khulafaur Rasyidin, ia mengikuti pula berbagai kampanye pertempuran baik melawan Kekaisaran Byzantium maupun melawan Kekaisaran Sassaniyah. Dia juga bersama dengan ayahnya, Zubair bin Awwam dan Aisyah bertempur melawan Ali bin Abi Thalib pada Pertempuran Unta.
Revolusi Ibnu Zubair
Pada umur 36 tahun, masa khalifah ke-4, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Zubair bersama dengan adik ibunya, Aisyah binti Abu Bakar, ayahnya Zubair bin Awwam serta sepupu ibunya Thalhah bin Ubaidillah mereka memberontak dan terjadilah Pertempuran Unta atau Jamal di daerah Basrah. Peperangan ini mengakibatkan hampir 20.000 orang muslimin meninggal, termasuknya ayahnya sendiri, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubadillah Ibnu Zubair tidak aktif dalam politik selama masa kekuasaan Muawiyah, tetapi pada masa Yazid I, ia menolak untuk berbaiat terhadap khalifah yang baru.
Setelah kematian Husain bin Ali di Pertempuran Karbala, Ibnu Zubair kembali ke Hejaz, dimana ia menyatakan dirinya sebagai khalifah yang sebenarnya, dan dia mulai membentuk pasukan. Secepatnya ia mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengirim seorang gubernur ke Kufah. Segera, Ibnu Zubair memantapkan keuasaannya di Iraq, Selatan Arabia dan bagian terbesar Syria, serta sebagian Mesir. Ibnu Zubair memperoleh keberuntungan yang besar karena ketidakpuasan rakyat terhadap kekuasaan Bani Umayyah. Salah seorang pendukungnya adalah Muslim bin Shihab, ayah dari Ibnu Shihab al-Zuhri yang kemudian menjadi cendekiawan muslim terkenal.
Yazid mencoba untuk menghentikan pemberontakan Ibnu Zubair dengan menyerbu Mekkah pada tahun 64 H, ia mengirim pasukan yang dipimpin oleh Husain bin Numair. Pada saat pengepungan Mekkah, Husain menggunakan ketapel, dimana peluru ketapel ini pernah menghancurkan Ka'bah. Tetapi karena mendengar kematian Yazid yang tiba-tiba, maka Husain bin Numair menghentikan pengepungan tersebut dan kembali ke Damaskus. Maka Ibnu Zubair dapat terbebaskan dan ia membangun kembali Ka'bah yang berantakan karena serbuan pasukan Umayyah. Kematian Yazid yang tiba-tiba ini mengakibatkan pula makin berantakannya kekuasaan Bani Umayyah dan perang saudara antar Bani Umayyah.
Hal ini mengakibatkan kekuasaan Islam terbagi menjadi dua bagian dengan dua khalifah yang berbeda, tetapi hal ini tidak bertahan lama. Perang saudara Umayyah dapat disudahi, dan Mesir dan Syria diambil alih oleh Marwan I. Pemberontakan Khawarij di Iraq terhadap Ibnu Zubair pun terjadi, hal ini mengakibatkan kekuasaan Ibnu Zubair hanya dapat bertahan di Hejaz.
Kekalahan terakhir Ibnu Zubair terjadi di ketika kekhalifahan Umayyah dipegang oleh Abdul-Malik, dimana Abdul-Malik mengirim Hajjaj bin Yusuf untuk menggabungkan kekaisaran Islam. Hajjaj memerintahkan pengepungan terhadap Mekkah, pusat kekuasaan Ibnu Zubair saat itu, selama 8 bulan dan 17 hari dengan terus melemparkan bola api melalui ketapel, yang membakar tutup Ka'bah dan kayu-kayu penyangga, Ibnu Zyubair tertangkap dan dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf pada tanggal 17 Jumadil Awwal 73 H atau 4 Oktober 692. Leher Ibnu Zubair dipenggal dan kepalanya dikirim sebagai hadiah kepada khalifah Abdul-Malik di Damaskus dan tubuhnya disalib. Hal ini mengembalikan kekuasaan Bani Umayyah terhadap seluruh daerah kekuasaan Islam.
IMAM BUKHARI
Nama lengkapnya adalah Muhammad Abu Abdullah bin Ismail Abul Hasan bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah (194 - 252 H = 810 - 870 M). Lahir di Bukhara, salah satu kota di Uzbekistan (dahulu termasuk Uni Sovyet), yang terletak di simpang jalan antara Rusia, Persi, Hinbeliau dan Tiongkok. Beliau lebih dikenal dengan nama Al Bukhari (putra daerah Bukhara) usai pelaksanaan shalat jumat, pada 13 Syawal 194 H (810 M) dan meninggal dunia pada malam Sabtu setelah melaksanakan shalat Isya' pada malam Idul Fitri 252 H (870 M) lalu dikebumikan sehabis shalat Dzuhur di Khirtank, sebuah kampung yang tidak jauh dari kota Samarkand.
Beliau dikenal sebagai ahli hadits yang sulit dicari tandingannya, sangat wara', qana'ah, sedikit makan, waktunya banyak digunakan membaca Al Qur'an baik siang maupun malam, dan gemar berbuat kebajikan kepada murid muridnya.
Konon, nenek moyangnya yang bernama Al Mughirah bin Bardizbah, adalah seorang penganut agama Majusi yang kemudian menyatakan masuk Islam di hadapan walikota yang bernama Al Yaman bin Ahnas Al Ju'fi. Oleh karena itu, beliau dinasabkan kepada Al Ju'fi.
Perhatian beliau terhadap ilmu ilmu hadits dimulai sejak berusia kurang lebih sepuluh tahun dan beliau sudah banyak menghafal hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau merantau ke negeri Syam, Mesir, Jazirah Arab sampai dua kali, Basrah empat kali, Hijaz dan bermukim di sana selama enam tahun, kemudian pergi ke Baghdad berkali kali bersama para ahli lainnya.
Suatu ketika beliau pergi ke Baghdad. Para ulama hadits di Baghdad bersepakat untuk menguji kemampuan dan kapasitas beliau sebagai ahli hadits yang masih muda yang namanya mulai populer dan menarik perhatian banyak orang. Para ulama hadits itu terdiri dari sepuluh orang. Masing masing akan mengutarakan kepadanya sebanyak sepuluh hadits yang sudah ditukar tukar sanad dan matannya. Kemudian beliau diundang ke sebuah pertemuan yang dihadiri juga oleh para ahli hadits lain baik dari dalam maupun luar kota, bahkan ulama hadits dari Khurasan diundang agar mengetahui kualitas dan kemampuan dia. Satu persatu para ulama hadits yang jumlahnya sepuluh itu menanyakan 10 hadits yang telah dipersiapkan kepadanya. Jawaban yang diberikan olehnya kepada penanya yang pertama hingga penanya yang kesepuluh adalah cukup singkat, "Saya tidak mengetahuinya.”
Langkah yang dilakukan beliau ini sebagai rasa tawadhu' dan penghormatannya di hadapan para ulama hadits lain. Namun, setelah beliau mengetahui bahwa para ulama hadits itu ingin menguji kemampuannya di bidang ilmu hadits, maka beliau terpaksa menjelaskan secara panjang lebar dengan membenarkan atau mengembalikan baik matan maupun sanad hadits yang diacak tidak karuan oleh kesepuluh para ulama hadits itu. Penjelasan beliau yang cukup panjang dalam membenarkan kesalahan dari seratus hadits yang dikemukakan para ulama hadits, membuat para ulama hadits yang hadir sangat tercengang dan harus mengakui kepandalan, ketelitian, dan hafalan beliau di bidang ilmu - ilmu hadits.
Beliau belajar dan memperoleh hadits dari beberapa orang yang dikenal sebagai penghafal hadits, di antaranya:
1. Maki bin Ibrahim,
2. Abdullah bin Usman Al Marwazi,
3. Abdullah bin Musa Al Abbasi,
4. Abu ‘Ashim Asy Syaibani dan
5. Muhamm'ad bin Abdullah Al Anshari.
Adapun ulama besar yang pernah belajar dan mendapatkan hadits darinya di antaranya adalah
1. Imam Muslim,
2. Abu Zur'ah,
3. At Turmudzi,
4. Ibnu Khuzaimah, dan
5. An Nasa'i.
Karya ilmiahnya tidak hanya terbatas pada kitab hadits saja, melainkan meliputi banyak disiplin ilmu pengetahuan lainj seperti kitab :
1. Qadhaya Ash Sluhabah Wa At Tabi'in
2. At Tarikh Al Kabir
3. At Tarikh Al Ausath
4. Al Adab Al Munfiarid
5. Bir Al Walidain.
Adapun karnyanya dibidang hadits yang sangat monumental adalah kitab, Shahih Al Bukhari. Kitab ini merupakan kumpulan hadits hadits shahih yang beliau persiapkan selama enam belas tahun. Beliau sangat berhati hati dalam menulis setiap hadits yang dimasukkan ke dalam kitab ini. Setiap kali hendak mencantumkan hadits dalam Kitab ini, lebih dahulu beliau mandi dan melaksanakan shalat istikharah untuk minta petunjuk kepada Allah. Ini bukan satu satunya cara beliau dalam menentukan keshahihan hadits secara ilmiah.
Lebih dari itu bahwa seluruh ulama di seluruh penjuru dunia setelah melakukan penelitian sanad sanad yang dikemukakan dalam kitab ini mengakui bahwa seluruh sanad sanadnya adalah tsiqah (terpercaya) dan diakui juga ada beberapa buah saja yang dinilai lemah sanadnya, tetapi tidak termasuk sanad yang sangat lemah. Hadis hadis yang dimuat dalam kitab ini adalah shahih semua. Ini berlandaskan pada pengakuan beliau sendiri, "Saya tidak memasukkan hadits dalam kitab ini kecuali shahih semuanya."
Jumlah hadits yang dimuat dalam kitab ini sebanyak 6397 buah, dengan hadits yang diulang ulang dan belum termasuk yang mu'allaq dan mutabi'. Yang mu'allaq sebanyak 1341 buah dan yang mutabi' sebanyak 384 buah (ini masih khilaf). Jadi, seluruh hadits yang tercantum dalam kitab, ini sebanyak 8122 buah, di luar yang maqthu' dan mauquf. Adapun jumlah yang sebenarnya, tanpa ada hadits yang diulang ulang (tanpa memasukkan yang mu'allaq dan mutabi) adalah sebanyak 2513 buah.
Beliau pernah bermukim di Bagdad dan Nisabur, sehingga suatu waktu beliau rindu dan kembali ke negeri asainya, Bukhara. Namun timbul perselisihan pendapat, yakni: "Apakah Al Qur'an itu termasuk makhluk ataukah tidak?" Karena hal ini penduduk Bukhara mengusirnya dari negerinya dan beliau wafat dalam perjalanan, yaitu di desa Khartanak, kira kira 24 kilometer jauhnya dari kota Samarkand (200 Kilometer utara dengan Perbatasan Afghanistan).
IMAM MUSLIM
Beliau adalah Abu Al Husain Muslim Bin Hajjaj Al Quwairy An Nisabury (204 261 H 820 875 M), lahir pada tahun 204 H (820 M) di Nisabur, sebuah kota terbesar ketika. itu di propinsi Khurasan, Iran bagian Timur Laut, dan meninggal di kota kelahirannya itu pada hari Ahad, 24 Rajab 261 H (875 M).
Beliau juga dinisbahkan kepada nenek moyangnya Qusyair bin Ka’ab bin Rabi'ah bin Shasha’ah, sebuah keluarga bangsawan besar. Semenjak berusia kanak kanak beliau telah rajin menuntut ilmu, di dukung dengan kecerdasan luar biasa, kekuatan ingatan, kemauan keras dan ketekunan yang mengagumkdn. Konon kabarnya, pada usia 10 tahun beliau telah hafal Al Qur’an seutuhnya serta ribuan hadis berikut sanadnya.
Ketika mudanya, beliau berkelana ke negeri negeri Islam, terutama ke pusat pusat ilmu pada masa itu, seperti Iraq, Hijaz, Syam, Mesir dan lain lain, untuk berguru kepada ulama ulama besar dan ahli ahli hadis terkemuka :
1. Di Khurasan, antara lain beliau belajar pada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawi;
2. Di 'Iraq, antara lain kepada Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbaly) dan 'Abdullah Ibnu Maslamah;
3. Di Hijaz, kepada Said bin Manshur, Abu Mush’ab dan lain lain;
4. di Mesir kepada 'Amru bin Sawwad dan Harmalah bin Yahya, serta banyak lagi yang lain lain.
5. Bahkan ketika Imam Bukhari datang ke Nisabur pada akhir malam kegiatan beliau , Imam Muslim senantiasa mendampinginya.
Adapun ulama besar dan para hafizh yang pernah menimba ilmu hadits kepada dia, di antaranya :
1. Abu Hatim,
2. Musa bin Haran,
3. Abu Isa At Turmudzi,
4. Yahya bin Sa'id,
5. Ibnu Khuzaimah,
6. Awwanah,
7. Ahmad bin Al Mubarak dan sebagainya.
Imam Muslim memikul nama besar sebagai ulama dan ahli hadis yang sangat masyhur dan terkemuka dengan predikat “Imam" ' tidak saja karena sifat sifat pribadi yang dimilikinya sejak kecil, seperti cerdas, kuat ingatan, tekun dan berkemauan keras, tetapi yang terutama pula ialah karena diri beliau selalu dihiasinya dengan taqwa, shalih, dan wara' (selalu menjauhkan diri dari dosa).
Kemudian, berkat karya karya besar yang dihasilkannya, nama beliau semakin tinggi dan meenimbulkan hormat bagi setiap ahli ilmu. Sebagai seorang ahli hadis, beliau berhasil mengumpulkair sejumlah 300.000 hadis. Kemudian dengan sangat cermat dan teliti hadis sebanyak itu diperiksanya satu persatu dengan suatu sistem yang amat ketat, yang sekarang dapat kita pelajari dalam "Ilmu Mushthahalah Hadis". Dari hasil penelitiannya itu, hanya sebanyak 7.275 hadis yang termasuk kategori 'Shahih" Tetapi yang dituangkannya dalam "Shahih Muslim” hanya ± 4.000 hadis, karena 3.000 di antaranya temyata berulang.
Imam Nawawi mengatakan, bahwa Imam Muslim telah mengambil cara yang sangat teliti dan cermat bagi kitab Shahihnya.Di samping itu Imam Nawawi juga mengatakan, 'Para ulama sepakat mengakui kebesarannya. Siape yang mendalamkan pandangan terhadap Shahih Muslim, akan tahu beliau bahwa Imam Muslim itu seorang Imam (pemuka) yang tiada bandingannya. Tidak sedikit ahli - ahli hadis berpredikat Imam yang meriwayatkan hadis daripadanya. Antara lain seperti Imam Turmudzi, Imam Ibnu Khuzaimah, Abdul Wahhab Al Farra, Ibnu Ishak Al Asfarainy, dan masih banyak lagi yang lain-bin."
Sekalipun beliau pernah mendampingi dan belajar kepada Imam Bukhari, tetapi namanya selalu disejajarkan orang dengan Bukhari. Sering kita dapati sebuah hadis dikatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bahkan Imam Nawawi mengatakan pula dalarn Syarahmya, “Para ulama sepakat bahwa Shahih Muslim adalah kitab hadis yang paling dipercaya di samping Shahih Bukhari.”
Sebagai seorang yang pernah mendampingi dan belajar kepada Imam Bukhari, tidaklah mengherankan kalau dalarn beberapa hal terlihat pengaruh Imam Bukhari pada karya-karya Imam Muslim. Bahkan hadis yang diterima dari Bukhari terlihat dituangkanya dalam buku-bukunya. Namun begitu, Muslim bukanlah seorang penjiplak karena banyak pula yang terdapat di dalam Muslim tidak terdapat dalam Bukhari.
Di samping itu terdapat pula beberapa perbedaan yang mendasar (fundamental), seperti sisternatika penyusunan Bab, Persyaratan Mengenai Perawi Hadis, Ruang Lingkup Keilmuan Fiqih dan sebagainya.
Selain "Shahih Muslim” yang paling terkenal dan mononjol, tercatat pula karya-karya besar beliau yang lain, di antaranya:
1. Al Musnad Al Kabir
2. Al Jami’Al Kabir
3. Al Asma' wal Kaniya
4. Al Afrad wal Wildan.
5. Al Aqran
6. Masyaikh Ats Tsauri
7. Tasymiyatu Syuyukhi Malik
8. Kitabul Muhadharimim
9. Kitab Auladish Shahabab
10. Ath Thabaqat At Tabi'in
11. Auhamul Muhadditsin
12. Afradus Syamiyin
13. At Tamyiz
14. Al 'Ilal.
Setiap karya beliau itu menimbulkan corak dan pengaruh yang dalam bagi karangan – karangan dan pembahasan dalam berbagai bidang Ilmu Agama Islam, bahkan menjadi pegangan yang kuat bagi kaum Muslimin.
sumber : rumahislam.com
IBNU SINA
Ibnu Sīnā telah menulis hampir 450 karya dengan berbagai disiplin ilmu, namun hanya sekitar 240 yang masih bertahan hingga kini. Secara khusus, dari 150 karyanya yang masih ada berkonsentrasi pada falsafah dan 40 diantaranya berkonsentrasi pada kedokteran. Karyanya paling terkenal adalah Buku Penyembuhan, yang memuat ensiklopedi luas dan filosofis ilmiah (Al Qanun Al Tibb) The Canon of Medicine, yang merupakan standar medis di banyak perguruan tinggi zaman modern. The Canon of Medicine telah digunakan sebagai buku teks di perguruan tinggi dari Montpellier dan Louvain pada akhir 1650.
Ibnu Sīnā mengembangkan sistem medis yang menkombinasikan antara pengalaman pribadi dalam pengobatan Islam, sistem pengobatan Yunani dokter Galen, metafisika Aristoteles serta berbagai sistem pengobatan kuno dari Persia, Mesopotamian dan India. Dia juga penemu dari logika Avicennian dan pendiri sekolah filosofis Avicinna, yang memiliki pengaruh dalam dunia Muslim dan Ilmuwan Modern.
Ibnu Sīnā dianggap sebagai Bapak dari pengobatan modern, dan pharmacology khususnya untuk pengenalan sistematis eksperimen dan hitungan ke dalam studi fisiologi, penemuan itu menular dari sifat infeksius penyakit, pengenalan karantina untuk membatasi penyebaran penyakit menular, pengenalan percobaan obat-obatan, berdasarkan bukti-obat, uji klinis,
Riwayat Ibnu Sina
Kehidupan Ibnu Sina dikenal lewat sumber - sumber berkuasa dimana sebuah autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretarisnya dan temannya.
Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afganistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.
Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.
Ibn Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intellectual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.
Meskipun bermasalah besar pada masalah - masalah metafisika dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan meninggalkan buku - bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus sholat sampai hidayah menyelesaikan kesulitan - kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata - katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak dikenal, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di suatu bookstall seharga tiga dirham. Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan, yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan memberikan sedekah atas orang miskin.
Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa "Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai." Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.
Pada usia 17 tahun, Ibnu Sina berhasil menyembuhkan seorang raja di Bukhara, yaitu Nooh Ibnu Mansoor, setelah semua tabib terkenal yang diundang gagal menyembuhkan sang raja tersebut. Dan sebagai balasannya, Ibnu Sina diizinkan untuk membaca smeua buku-buku di perpustakaan setelah dia menolak pemberian hadiah sang Raja.
Pekerjaan pertamanya menjadi fisikawan untuk emir, yang diobatinya dari suatu penyakit yang berbahaya. Majikan Ibnu Sina memberinya hadiah atas hal tersebut dengan memberinya akses ke perpustakaan raja Samanids, pendukung pendidikan dan ilmu. Ketika perpustakaan dihancurkan oleh api tidak lama kemudian, musuh - musuh Ibnu Sina menuduh din oa yang membakarnya, dengan tujuan untuk menyembunyikan sumber pengetahuannya. Sementara itu, Ibnu Sina membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awalnya.
Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal.Samanid dynasty menuju keruntuhannya pada Desember 1004. Ibnu Sina menolak pemberian Mahmud of Ghazni, dan menuju kearah Barat ke Urgench di Uzbekistan modern, dimana vizier, dianggap sebagai teman seperguruan, memberinya gaji kecil bulanan. Tetapi gajinya kecil, sehingga Ibnu Sina mengembara dari satu tempat ke tempat lain melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan, mencari suatu opening untuk bakat - bakatnya. Shams al-Ma'äli Qäbtis, sang dermawan pengatur Dailam, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibn Sina mengharapkan menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak. Ibnu Sina sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, Ibnu Sina bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri idmana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini ; dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.
Ibnu Sina wafat pada tahun 1037 M di Hamadan, Iran, karena penyakit maag yang kronis. Ia wafat ketika sedang mengajar di sebuah sekolah.
ABDULLAH BIN ZUBAIR <sahabat nabi>
Abdullah bin Zubair atau Ibnu Zubair (624 - 692) (عبدالله بن الزبير ) adalah putera dari Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar, dimana Zubair juga merupakan keponakan dari istri pertama Nabi Muhammad, Khadijah. Asma binti Abu Bakar melahirkan Ibnu Zubair di Quba pada saat perjalanan hijrah ke Madinah. Dia merupakan muslim pertama yang lahir dalam masyarakat Islam dan hidup sampai umur 73 tahun. Menurut riwayat dari Bukhari, Rasulullah mendoakan bayi ini pada saat kelahirannya.
Ibnu Zubair merupakan anggota dari Bani Asad. Sebagai orang muda, Abdullah berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kampanye peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, seperti Pertempuran Badar dan Pertempuran Uhud, malah di Uhud, dia termasuk salah seorang yang melindungi Muhammad pada saat kekalahan pihak muslim, dimana sahabat-sahabat yang lain melarikan diri.
Abdullah bin Zubair ketika kecil pernah diramalkan oleh Umar ibn Khattab akan menjadi seorang yang besar. cerita ini bermula ketika Umar sedang berjalan-jalan di kota Madinah. ketika itu banyak anak kecil yang sedang bermain di jalan, namun ketika mereka melihat Umar, mereka lari tunggang langgang meninggalkan jalanan tersebut dan hanya satu anak yang tidak lari. Umar lalu mendekati anak tersebut dan bertanya, " Hai anak, kenapa kau tidak ikut lari bersama mereka ? " lalu anak kecil itu menjawab, " Kenapa aku harus lari, sedang aku tidak bersalah padamu ya Amirul mukminin.." Umar lalu menepuk-nepuk pundak anak itu,dan berkata " Sungguh suatu saat nanti, engkau akan menjadi seorang yang besar "
Kemudian pada masa Khulafaur Rasyidin, ia mengikuti pula berbagai kampanye pertempuran baik melawan Kekaisaran Byzantium maupun melawan Kekaisaran Sassaniyah. Dia juga bersama dengan ayahnya, Zubair bin Awwam dan Aisyah bertempur melawan Ali bin Abi Thalib pada Pertempuran Unta.
Revolusi Ibnu Zubair
Pada umur 36 tahun, masa khalifah ke-4, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Zubair bersama dengan adik ibunya, Aisyah binti Abu Bakar, ayahnya Zubair bin Awwam serta sepupu ibunya Thalhah bin Ubaidillah mereka memberontak dan terjadilah Pertempuran Unta atau Jamal di daerah Basrah. Peperangan ini mengakibatkan hampir 20.000 orang muslimin meninggal, termasuknya ayahnya sendiri, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubadillah Ibnu Zubair tidak aktif dalam politik selama masa kekuasaan Muawiyah, tetapi pada masa Yazid I, ia menolak untuk berbaiat terhadap khalifah yang baru.
Setelah kematian Husain bin Ali di Pertempuran Karbala, Ibnu Zubair kembali ke Hejaz, dimana ia menyatakan dirinya sebagai khalifah yang sebenarnya, dan dia mulai membentuk pasukan. Secepatnya ia mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengirim seorang gubernur ke Kufah. Segera, Ibnu Zubair memantapkan keuasaannya di Iraq, Selatan Arabia dan bagian terbesar Syria, serta sebagian Mesir. Ibnu Zubair memperoleh keberuntungan yang besar karena ketidakpuasan rakyat terhadap kekuasaan Bani Umayyah. Salah seorang pendukungnya adalah Muslim bin Shihab, ayah dari Ibnu Shihab al-Zuhri yang kemudian menjadi cendekiawan muslim terkenal.
Yazid mencoba untuk menghentikan pemberontakan Ibnu Zubair dengan menyerbu Mekkah pada tahun 64 H, ia mengirim pasukan yang dipimpin oleh Husain bin Numair. Pada saat pengepungan Mekkah, Husain menggunakan ketapel, dimana peluru ketapel ini pernah menghancurkan Ka'bah. Tetapi karena mendengar kematian Yazid yang tiba-tiba, maka Husain bin Numair menghentikan pengepungan tersebut dan kembali ke Damaskus. Maka Ibnu Zubair dapat terbebaskan dan ia membangun kembali Ka'bah yang berantakan karena serbuan pasukan Umayyah. Kematian Yazid yang tiba-tiba ini mengakibatkan pula makin berantakannya kekuasaan Bani Umayyah dan perang saudara antar Bani Umayyah.
Hal ini mengakibatkan kekuasaan Islam terbagi menjadi dua bagian dengan dua khalifah yang berbeda, tetapi hal ini tidak bertahan lama. Perang saudara Umayyah dapat disudahi, dan Mesir dan Syria diambil alih oleh Marwan I. Pemberontakan Khawarij di Iraq terhadap Ibnu Zubair pun terjadi, hal ini mengakibatkan kekuasaan Ibnu Zubair hanya dapat bertahan di Hejaz.
Kekalahan terakhir Ibnu Zubair terjadi di ketika kekhalifahan Umayyah dipegang oleh Abdul-Malik, dimana Abdul-Malik mengirim Hajjaj bin Yusuf untuk menggabungkan kekaisaran Islam. Hajjaj memerintahkan pengepungan terhadap Mekkah, pusat kekuasaan Ibnu Zubair saat itu, selama 8 bulan dan 17 hari dengan terus melemparkan bola api melalui ketapel, yang membakar tutup Ka'bah dan kayu-kayu penyangga, Ibnu Zyubair tertangkap dan dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf pada tanggal 17 Jumadil Awwal 73 H atau 4 Oktober 692. Leher Ibnu Zubair dipenggal dan kepalanya dikirim sebagai hadiah kepada khalifah Abdul-Malik di Damaskus dan tubuhnya disalib. Hal ini mengembalikan kekuasaan Bani Umayyah terhadap seluruh daerah kekuasaan Islam.
IMAM BUKHARI
Nama lengkapnya adalah Muhammad Abu Abdullah bin Ismail Abul Hasan bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah (194 - 252 H = 810 - 870 M). Lahir di Bukhara, salah satu kota di Uzbekistan (dahulu termasuk Uni Sovyet), yang terletak di simpang jalan antara Rusia, Persi, Hinbeliau dan Tiongkok. Beliau lebih dikenal dengan nama Al Bukhari (putra daerah Bukhara) usai pelaksanaan shalat jumat, pada 13 Syawal 194 H (810 M) dan meninggal dunia pada malam Sabtu setelah melaksanakan shalat Isya' pada malam Idul Fitri 252 H (870 M) lalu dikebumikan sehabis shalat Dzuhur di Khirtank, sebuah kampung yang tidak jauh dari kota Samarkand.
Beliau dikenal sebagai ahli hadits yang sulit dicari tandingannya, sangat wara', qana'ah, sedikit makan, waktunya banyak digunakan membaca Al Qur'an baik siang maupun malam, dan gemar berbuat kebajikan kepada murid muridnya.
Konon, nenek moyangnya yang bernama Al Mughirah bin Bardizbah, adalah seorang penganut agama Majusi yang kemudian menyatakan masuk Islam di hadapan walikota yang bernama Al Yaman bin Ahnas Al Ju'fi. Oleh karena itu, beliau dinasabkan kepada Al Ju'fi.
Perhatian beliau terhadap ilmu ilmu hadits dimulai sejak berusia kurang lebih sepuluh tahun dan beliau sudah banyak menghafal hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau merantau ke negeri Syam, Mesir, Jazirah Arab sampai dua kali, Basrah empat kali, Hijaz dan bermukim di sana selama enam tahun, kemudian pergi ke Baghdad berkali kali bersama para ahli lainnya.
Suatu ketika beliau pergi ke Baghdad. Para ulama hadits di Baghdad bersepakat untuk menguji kemampuan dan kapasitas beliau sebagai ahli hadits yang masih muda yang namanya mulai populer dan menarik perhatian banyak orang. Para ulama hadits itu terdiri dari sepuluh orang. Masing masing akan mengutarakan kepadanya sebanyak sepuluh hadits yang sudah ditukar tukar sanad dan matannya. Kemudian beliau diundang ke sebuah pertemuan yang dihadiri juga oleh para ahli hadits lain baik dari dalam maupun luar kota, bahkan ulama hadits dari Khurasan diundang agar mengetahui kualitas dan kemampuan dia. Satu persatu para ulama hadits yang jumlahnya sepuluh itu menanyakan 10 hadits yang telah dipersiapkan kepadanya. Jawaban yang diberikan olehnya kepada penanya yang pertama hingga penanya yang kesepuluh adalah cukup singkat, "Saya tidak mengetahuinya.”
Langkah yang dilakukan beliau ini sebagai rasa tawadhu' dan penghormatannya di hadapan para ulama hadits lain. Namun, setelah beliau mengetahui bahwa para ulama hadits itu ingin menguji kemampuannya di bidang ilmu hadits, maka beliau terpaksa menjelaskan secara panjang lebar dengan membenarkan atau mengembalikan baik matan maupun sanad hadits yang diacak tidak karuan oleh kesepuluh para ulama hadits itu. Penjelasan beliau yang cukup panjang dalam membenarkan kesalahan dari seratus hadits yang dikemukakan para ulama hadits, membuat para ulama hadits yang hadir sangat tercengang dan harus mengakui kepandalan, ketelitian, dan hafalan beliau di bidang ilmu - ilmu hadits.
Beliau belajar dan memperoleh hadits dari beberapa orang yang dikenal sebagai penghafal hadits, di antaranya:
1. Maki bin Ibrahim,
2. Abdullah bin Usman Al Marwazi,
3. Abdullah bin Musa Al Abbasi,
4. Abu ‘Ashim Asy Syaibani dan
5. Muhamm'ad bin Abdullah Al Anshari.
Adapun ulama besar yang pernah belajar dan mendapatkan hadits darinya di antaranya adalah
1. Imam Muslim,
2. Abu Zur'ah,
3. At Turmudzi,
4. Ibnu Khuzaimah, dan
5. An Nasa'i.
Karya ilmiahnya tidak hanya terbatas pada kitab hadits saja, melainkan meliputi banyak disiplin ilmu pengetahuan lainj seperti kitab :
1. Qadhaya Ash Sluhabah Wa At Tabi'in
2. At Tarikh Al Kabir
3. At Tarikh Al Ausath
4. Al Adab Al Munfiarid
5. Bir Al Walidain.
Adapun karnyanya dibidang hadits yang sangat monumental adalah kitab, Shahih Al Bukhari. Kitab ini merupakan kumpulan hadits hadits shahih yang beliau persiapkan selama enam belas tahun. Beliau sangat berhati hati dalam menulis setiap hadits yang dimasukkan ke dalam kitab ini. Setiap kali hendak mencantumkan hadits dalam Kitab ini, lebih dahulu beliau mandi dan melaksanakan shalat istikharah untuk minta petunjuk kepada Allah. Ini bukan satu satunya cara beliau dalam menentukan keshahihan hadits secara ilmiah.
Lebih dari itu bahwa seluruh ulama di seluruh penjuru dunia setelah melakukan penelitian sanad sanad yang dikemukakan dalam kitab ini mengakui bahwa seluruh sanad sanadnya adalah tsiqah (terpercaya) dan diakui juga ada beberapa buah saja yang dinilai lemah sanadnya, tetapi tidak termasuk sanad yang sangat lemah. Hadis hadis yang dimuat dalam kitab ini adalah shahih semua. Ini berlandaskan pada pengakuan beliau sendiri, "Saya tidak memasukkan hadits dalam kitab ini kecuali shahih semuanya."
Jumlah hadits yang dimuat dalam kitab ini sebanyak 6397 buah, dengan hadits yang diulang ulang dan belum termasuk yang mu'allaq dan mutabi'. Yang mu'allaq sebanyak 1341 buah dan yang mutabi' sebanyak 384 buah (ini masih khilaf). Jadi, seluruh hadits yang tercantum dalam kitab, ini sebanyak 8122 buah, di luar yang maqthu' dan mauquf. Adapun jumlah yang sebenarnya, tanpa ada hadits yang diulang ulang (tanpa memasukkan yang mu'allaq dan mutabi) adalah sebanyak 2513 buah.
Beliau pernah bermukim di Bagdad dan Nisabur, sehingga suatu waktu beliau rindu dan kembali ke negeri asainya, Bukhara. Namun timbul perselisihan pendapat, yakni: "Apakah Al Qur'an itu termasuk makhluk ataukah tidak?" Karena hal ini penduduk Bukhara mengusirnya dari negerinya dan beliau wafat dalam perjalanan, yaitu di desa Khartanak, kira kira 24 kilometer jauhnya dari kota Samarkand (200 Kilometer utara dengan Perbatasan Afghanistan).
IMAM MUSLIM
Beliau adalah Abu Al Husain Muslim Bin Hajjaj Al Quwairy An Nisabury (204 261 H 820 875 M), lahir pada tahun 204 H (820 M) di Nisabur, sebuah kota terbesar ketika. itu di propinsi Khurasan, Iran bagian Timur Laut, dan meninggal di kota kelahirannya itu pada hari Ahad, 24 Rajab 261 H (875 M).
Beliau juga dinisbahkan kepada nenek moyangnya Qusyair bin Ka’ab bin Rabi'ah bin Shasha’ah, sebuah keluarga bangsawan besar. Semenjak berusia kanak kanak beliau telah rajin menuntut ilmu, di dukung dengan kecerdasan luar biasa, kekuatan ingatan, kemauan keras dan ketekunan yang mengagumkdn. Konon kabarnya, pada usia 10 tahun beliau telah hafal Al Qur’an seutuhnya serta ribuan hadis berikut sanadnya.
Ketika mudanya, beliau berkelana ke negeri negeri Islam, terutama ke pusat pusat ilmu pada masa itu, seperti Iraq, Hijaz, Syam, Mesir dan lain lain, untuk berguru kepada ulama ulama besar dan ahli ahli hadis terkemuka :
1. Di Khurasan, antara lain beliau belajar pada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawi;
2. Di 'Iraq, antara lain kepada Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbaly) dan 'Abdullah Ibnu Maslamah;
3. Di Hijaz, kepada Said bin Manshur, Abu Mush’ab dan lain lain;
4. di Mesir kepada 'Amru bin Sawwad dan Harmalah bin Yahya, serta banyak lagi yang lain lain.
5. Bahkan ketika Imam Bukhari datang ke Nisabur pada akhir malam kegiatan beliau , Imam Muslim senantiasa mendampinginya.
Adapun ulama besar dan para hafizh yang pernah menimba ilmu hadits kepada dia, di antaranya :
1. Abu Hatim,
2. Musa bin Haran,
3. Abu Isa At Turmudzi,
4. Yahya bin Sa'id,
5. Ibnu Khuzaimah,
6. Awwanah,
7. Ahmad bin Al Mubarak dan sebagainya.
Imam Muslim memikul nama besar sebagai ulama dan ahli hadis yang sangat masyhur dan terkemuka dengan predikat “Imam" ' tidak saja karena sifat sifat pribadi yang dimilikinya sejak kecil, seperti cerdas, kuat ingatan, tekun dan berkemauan keras, tetapi yang terutama pula ialah karena diri beliau selalu dihiasinya dengan taqwa, shalih, dan wara' (selalu menjauhkan diri dari dosa).
Kemudian, berkat karya karya besar yang dihasilkannya, nama beliau semakin tinggi dan meenimbulkan hormat bagi setiap ahli ilmu. Sebagai seorang ahli hadis, beliau berhasil mengumpulkair sejumlah 300.000 hadis. Kemudian dengan sangat cermat dan teliti hadis sebanyak itu diperiksanya satu persatu dengan suatu sistem yang amat ketat, yang sekarang dapat kita pelajari dalam "Ilmu Mushthahalah Hadis". Dari hasil penelitiannya itu, hanya sebanyak 7.275 hadis yang termasuk kategori 'Shahih" Tetapi yang dituangkannya dalam "Shahih Muslim” hanya ± 4.000 hadis, karena 3.000 di antaranya temyata berulang.
Imam Nawawi mengatakan, bahwa Imam Muslim telah mengambil cara yang sangat teliti dan cermat bagi kitab Shahihnya.Di samping itu Imam Nawawi juga mengatakan, 'Para ulama sepakat mengakui kebesarannya. Siape yang mendalamkan pandangan terhadap Shahih Muslim, akan tahu beliau bahwa Imam Muslim itu seorang Imam (pemuka) yang tiada bandingannya. Tidak sedikit ahli - ahli hadis berpredikat Imam yang meriwayatkan hadis daripadanya. Antara lain seperti Imam Turmudzi, Imam Ibnu Khuzaimah, Abdul Wahhab Al Farra, Ibnu Ishak Al Asfarainy, dan masih banyak lagi yang lain-bin."
Sekalipun beliau pernah mendampingi dan belajar kepada Imam Bukhari, tetapi namanya selalu disejajarkan orang dengan Bukhari. Sering kita dapati sebuah hadis dikatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bahkan Imam Nawawi mengatakan pula dalarn Syarahmya, “Para ulama sepakat bahwa Shahih Muslim adalah kitab hadis yang paling dipercaya di samping Shahih Bukhari.”
Sebagai seorang yang pernah mendampingi dan belajar kepada Imam Bukhari, tidaklah mengherankan kalau dalarn beberapa hal terlihat pengaruh Imam Bukhari pada karya-karya Imam Muslim. Bahkan hadis yang diterima dari Bukhari terlihat dituangkanya dalam buku-bukunya. Namun begitu, Muslim bukanlah seorang penjiplak karena banyak pula yang terdapat di dalam Muslim tidak terdapat dalam Bukhari.
Di samping itu terdapat pula beberapa perbedaan yang mendasar (fundamental), seperti sisternatika penyusunan Bab, Persyaratan Mengenai Perawi Hadis, Ruang Lingkup Keilmuan Fiqih dan sebagainya.
Selain "Shahih Muslim” yang paling terkenal dan mononjol, tercatat pula karya-karya besar beliau yang lain, di antaranya:
1. Al Musnad Al Kabir
2. Al Jami’Al Kabir
3. Al Asma' wal Kaniya
4. Al Afrad wal Wildan.
5. Al Aqran
6. Masyaikh Ats Tsauri
7. Tasymiyatu Syuyukhi Malik
8. Kitabul Muhadharimim
9. Kitab Auladish Shahabab
10. Ath Thabaqat At Tabi'in
11. Auhamul Muhadditsin
12. Afradus Syamiyin
13. At Tamyiz
14. Al 'Ilal.
Setiap karya beliau itu menimbulkan corak dan pengaruh yang dalam bagi karangan – karangan dan pembahasan dalam berbagai bidang Ilmu Agama Islam, bahkan menjadi pegangan yang kuat bagi kaum Muslimin.
sumber : rumahislam.com




